Zawjati

Kamis, 06 Juni 2013

JENIS-JENIS MANUSIA DARI BERBAGAI MACAM SUMBER


4 JENIS MANUSIA BERDASARKAN PENGETAHUANNYA

Imam Ghazali memaparkan bahwa manusia terbagi kedalam 4 (empat) jenis golongan, 4 golongan yang dimaksud adalah :

1. Rojulun Yadri wa Yadri Annahu Yadri
Seseorang yang tahu, dan dia tahu kalau dirinya tahu.
Orang seperti ini biasanya disebut ‘Alim “mengetahui”. Terhadap orang yang seperti ini yang harus kita lakukan adalah dengan mengikutinya, apalagi kalau kita masih awam dan butuh banyak ilmu. Maka, sudah sepatutnya kita mencari orang seperti ini.
Ini adalah jenis manusia yang paling baik berdasarkan ilmu pengetahuannya, ia tidak hanya memiliki pengetahuan yang luas tetapi juga dia menyadari kemapanan ilmunya sehingga ia mengamalkannya di jalan Allah SWT. Ia senantiasa berusaha semaksimal mungkin untuk mengamalkan ilmunya demi kemaslahatan umat. Orang seperti ini meskipun pengetahuannya luas dan mapan, ia tidak sombong dan tidak berhenti belajar.
Manusia jenis ini adalah manusia unggul, manusia seperti inilah yang mampu merubah dunia kearah yang lebih baik, mereka layak menjadi lifemaking. Jumlah manusia seperti ini tidaklah banyak, tapi setiap dimana ia berada ia akan menjadi nyawa bagi kehidupan umat manusia lainnya. Subhanallah… dimanakah orang-orang yang seperti ini ?
2. Rojulun Yadri wa Laa Yadri Annahu Yadri
Seseorang yang tahu, tapi dia tidak tahu kalau dirinya tahu.
Untuk tipe yang seperti ini, mungkin bisa kita umpamakan orang yang tengah tertidur, lalu bagaimana sikap kita dengan orang yang seperti ini ?, bangunkan dia !. Manusia seperti ini sesungguhnya memiliki ilmu dan kecakapan, tapi dia tidak pernah menyadari bahwa sesungguhnya dia memiliki potensi yang luar biasa tersebut. Manusia seperti ini sering kita jumpai disekeliling kita, keberadaannya seakan-akan tidak berguna selama dia belum bangun (menyadari kemampuannya).
Sekali lagi orang-orang seperti ini harus segera dibangunkan, karena ilmunya yang tidak segera diamalkan bisa bagaikan pohon yang tidak berbuah, adanya dia menjadi seperti tidak ada. Untuk yang merasa teman baginya, ingatkan dia, yakinkan dia bahwa dia memiliki potensi untuk bisa.
3. Rojulun Laa Yadri Wa Yadri Annahu Laa Yadri
Seseorang yang tidak tahu, tapi dia tahu (sadar diri) kalau dia tidak tahu.
Orang-orang seperti ini adalah orang yang masih awam, masih lemah pengetahuannya, masih (maaf) bodoh pengetahuannya. Maka bagi orang-orang yang berilmu yang berada disekitarnya adalah berkewajiban untuk merangkul dan mengajarinya.
Menurut Imam Ghozali, jenis manusia seperti ini masih tergolong baik. Sebab manusia seperti ini menyadari akan kekurangannya, ia bisa mengintropeksi dirinya dan bisa menempatkan diri sepantasnya. Karena ia tahu akan segala kekurangannya, ia terus berusaha menyempurnakannya. Dengan terus berusaha belajar, sangat diharapkan suatu saat nanti bisa berilmu dan tahu kalau dirinya punya ilmu yang harus diamalkan.
Meskipun tergolong baik, tapi ini bukan tipe manusia yang bisa membuat perubahan nyata bagi lingkungannya. Sebab, tanpa ilmu pengetahuan yang cukup, maka manusia tidak bisa berinovasi.
Baiknya, tipe manusia ini dengan kesadaran dan akal sehatnya tidaka akan menghalangi sebuah proses perubahan kearah yang lebih baik. Dia tidak akan berani nekat memegang amanah yang ia rasa tidak memiliki kemampuan untuk memegangnya, sebab ia tahu siapa dirinya.
4. Rojulun Laa Yadri wa Laa Yadri Annahu Laa Yadri
Seseorang yang tidak tahu, dan dia tidak tahu kalau dirinya tidak tahu.
Inilah jenis manusia yang paling buruk, tidak tahu diri dan tidak berguna. Ia selalu merasa mengerti, merasa benar, merasa memiliki ilmu, padahal ia tidak tahu apa-apa. Repotnya manusia seperti ini susah sekali untuk disadarkan, ketika pendapatnya sudah patah dan lemah sekalipun ia tetap mencari-cari alasan untuk membenarkan kesalahannya tersebut. Kalau diingatkan ia akan membantah sebab ia merasa tahu atau bahkan merasa lebih tahu. Jenis seperti ini paling susah dicari kebaikannya.
Jangan ikuti orang seperti ini, kalau memang kita merasa tidak sanggup untuk menyadarkannya maka lebih baik meninggalkannya ketimbang kita yang akan terpengaruh oleh dia. Ingat, ilmu yang palsu (keliru) jauh lebih berbahaya dari kebodohan.
Terlalu banyak istilah untuk menggambarkan orang seperti ini, hal ini sebanding dengan banyaknya manusia jenis seperti ini (atau bahkan jangan-jangan diri kita sendiri ?, naudzubillah….). Biasanya orang seperti inilah yang gampang terbawa aliran sesat atau bahkan menyesatkan. Meninggalkannya masih jauh lebih baik daripada banyak berdebat yang hanya akan menimbulkan pertikaian, debat yang tak’ akan pernah berkesudahan karena jalur pemikirannya sendiri sudah berbeda. Kita ke Timur dia ke Barat.

MACAM-MACAM ORANG

Pertama : Seorang hamba yang dikaruniai harta dan ilmu. Dia bertakwa kepada Tuhannya dan mempererat hubungan kekeluargaan serta mengetahui pula haknya Allah dalam apa yang dimilikinya itu, dialah seutama-utamanya.

Kedua : Seseorang hamba yang dikaruniai ilmu tanpa harta. Orang itu benar niatannya, lalu ia berkata: "Andaikata saya mempunyai harta, niscaya saya akan melakukan sebagaimana yang dilakukan si Fulan itu. Karena niatannya tadi, pahalanya sama antara ia dengan orang yang akan dicontohnya.

Ketiga : Seseorang hamba yang dikaruniai harta tanpa ilmu.  kemudian ia mempergunakan hartanya dalam hal-hal yang buruk. Serta ia tidak pula bertakwa kepada Tuhannya dan tidak suka mempereratkan tali kekeluargaannya, bahkan tidak pula mengetahui hak-hak Allah dalam hartanya itu, maka dialah seburuk-buruk hamba.

Keempat : Seseorang hamba yang tidak dikaruniai harta dan tidak pula ilmu. Lalu ia berkata: "Andaikata saya mempunyai harta niscayalah saya akan melakukan sebagaimana yang dilakukan oleh si Fulan. Maka orang ini karena niatannya adalah sama dosanya dengan orang yang akan dicontohnya itu." 

TIGA MACAM ORANG BERILMU

KARENA para ulama itu adalah warastatul anbiya’, pewaris para nabi. Maka secara definitife syar`iy ulama adalah seseorang yang seluruh hidupnya dicurahkan untuk mengembangkan ajaran Islam, lurus Aqidahnya, berilmu tinggi dan sangat mendalam dalam pemahaman, berpribadi serta berakhlak luhur dan rendah hati, dapat dipercaya dan konsisten (istiqamah), bijaksana, dan tidak terperangkap dengan nafsu duniawi.

Tetapi kini kita coba membincangkan ulama dalam tataran definisi secara lughawi saja. Secara kebahasaan, ‘ulama’ berasal dari kata kerja dasar ‘alima (telah mengetahui); berubah menjadi kata benda pelaku, isim fa’il -‘alimun- (orang yang mengetahui – mufrad/singular) dan kata ‘ulama adalah (jamak taksir). Artinya ulama adalah seseorang yang menguasai berbagai ilmu.
Menurut al-Ghazali dalam Ihya`nya ulama itu di bagi menjadi tiga bagian.

Pertama, ada ulama yang merusak dirinya sendiri dan merusak orang lain, dhillun-mudhillun. Mereka adalah orang-orang berilmu yang terang-terangan mencari dunia dan berorientasi serta menghadap pada kesenangan-kesenangan duniawi semata melalui ilmu agama. Dalil-dalil al-Qur`an dan hadits yang telah dia kuasai, di gunakan untuk memperkuat hubbul-jah, gila hormat, jabatan, kekayaan. Dengan menafsiri ayat-ayat sesuai nafsu serakahnya kepada keduniaan. Bahkan dengan dalil-dalil yang sama dia mengajak orang lain untuk mensejajarkan barisan dengannya. Mereka inilah yang oleh al-Qur`an di sebut sebagai “orang yang tersesat jalannya, sedangkan mereka menyangka bahwa jalan yang di laluinya adalah sebaik-baik jalan.” Jadi, ilmunya hanya di gunakan untuk mendukung kejahatan-kejahatan dan akhlak buruknya.

Kedua, ada ulama yang menguntungkan diri sendiri dan juga mengajak orang lain untuk mendapat keuntungan yang abadi. Mereka adalah orang-orang yang mengajak masyarakat kepada Allah subhanhu wata`ala lahir dan batin. Ulama yang ini mendidik, mengajak serta membimbing orang lain untuk beribadah hanya untuk Allah, tidak untuk kepentingan-keentingan yang lain. Ibadahnya di arahkan hanya untuk Allah, bahkan bukan hanya ibadah yang di jadikan sebagai ibadah yang di persembahkan untuk Allah, pekerjaan biasa harian pun, di arahkan supaya menjadi ibadah. Seperti makan, minum, berpakaian, supaya menjadi ibadah beliau dengan telaten membimbing ummat; dahului semuanya dengan basmalah dan do`a, kemudian lakukan semuanya sesuai dengan tuntunan Rasulullah Saw. Niscaya pekerjaan-pekerjaan biasa harian itu akan menjadi ibadah. Memasang sandal, bagaimana adabnya supaya amaliyah tersebut dapat menjadi ibadah dan masih banyak lagi hal-hal lain yang senada dengan ini semua. Begtulah ulama yang benar-benar ulama; menyelamatkan dirinya dan juga menggiring serta membawa orang lain untuk tulus mengabdi kepada Allah demi mencapai keselamatan hidupnya dengan kasih sayang yang tulus dan tidak mengharapkan balasan apapun. Beliau ini tidak mencari popularitas, karena popularitas sangat bertentangan dengan sifat tawaduk dan ikhlasnya. Benarlah sebuah maqalah yang mengatakan: “Ulama itu ketika mengetahui sesuatu akan di amalkan, ketika mengamalkan beliau akan sibuk, ketika sibuk beliau akan sulit di temukan, ketika sulit di temukan beliau akan di cari, ketika di cari beliau akan menghindar.”

Ketiga, ulama yang merusak dirinya sendiri, namun menguntungkan orang lain. Yaitu orang alim yang mengajak kepada akhirat, dan dia sendiri pada lahiriyahnya telah meninggalkan kesenangan-kesenangan duniawi. Tetapi batinnya tetap bermaksud menghadap dan menegakkan kedudukannya di hati orang serta status sosialnya di tengah-tengah masyarakat.
Kehebatan di atas podium tidak di imbangi kehebatan amaliyahnya, apa yang dia bicarakan adalah syai`un, sedangkan tingkah lakunya syai`un akhar. Ketika dia mengajak orang lain untuk tekun dan rajin ibadah, maka orang-orang betul-betul memperhatikannya, dalam waktu singkat para pendengar itu semakin meningkatlah taqarrubnya kepada Allah, sedangkan diri yang menyampaikan -yang oleh orang di sebut sebagai ulama- tetap dalam keadaan semula. Keadaan ini persis seperti lilin, yang membakar diri sendiri, tetapi menerangi yang lainnya. Juga seperti tukang bangunan; pinter membuat megah dan indah rumah orang lain, tetapi mereka sering lupa untuk memperbaiki rumah sendiri. Juga seperti sepotong jarum, pintar membuat baju untuk orang lain, sementara dirinya tetap telanjang.

Benarlah apa yang di sabdakan oleh Rasulullah Saw; “innallaha la yu`ayyidu hadza-ddina birrajulil fajir, Sungguh Allah akan menguatkan agama ini dengan kaum-kaum yang durhaka.” Yang di maksud fajir di sini adalah mereka yang bangga dengan tumpukan pengetahuannya sehingga mempesona banyak orang tetapi amaliyahnya jauh dari sinaran ilmu yang telah di kuasai.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar